Upacara Peringati Hari Raya Galungan dan Sembahyang, Denpasar

Upacara Peringati Hari Raya Galungan dan Sembahyang, Denpasar
Foto: Upacara Odalan di Pura Dalem Sakenan Denpasar

Denpasar, detiknusantaraNET – Upacara Odalan di Pura Dalem Sakenan Denpasar dalam memperingati Hari Raya Galungan. Kegiatan uparaca dilakukan Pada, Pukul 09:11 WIB.

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa saat Kuningan umat Hindu diarahkan agar selesai mebanten dan sembahyang sebelum jam 12 siang.

Selain dari lontar Sundarigama, yang menjelaskan bahwa setelah siang hari para dewa dan roh leluhur kembali ke alam sunia.

Alasan lainnya, dijelaskan oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, Kepada detiknusantaraNET, Pada Tanggal (20/11/2021)

Dalam kepercayaan umat Hindu di Bali, leluhur dan ida bhatara-bhatari, bukannya balik pada siang hari dan turun pada pagi hari, tetapi sebaliknya.

“Dalam kepercayaan umat Hindu di Bali, ida bhatara-bhatari sudah hadir (sudah turun) sejak Galungan dan akan balik ke alam niskala pada pagi hari sebelum (tengai tepet) tengah hari,” jelas sulinggih asal Denpasar jelasnya”.

Oleh karena itu, untuk upacara saat Kuningan diharuskan sudah selesai sebelum jam 12.00 siang (sebelum tengai tepet), karena dipercaya bahwa bhatara-bhatari telah meninggalkan alam sekala menuju alam niskala.

“Hal ini memiliki nilai filosofis, dimana kalau kita ingin mempertahankan kemenangan Dharma, maka kita harus selalu giat berusaha tidak bermalas-malasan tetapi harus rajin tanpa menunda-nunda waktu,” tegas pensiunan dosen UNHI Denpasar ini.

Sebab, lanjut beliau, apabila bermalas-malasan dan menunda-nunda, maka tentu saja akan ketinggalan. Baik itu ketinggalan yang dimaksud disini adalah ketinggalan waktu, kesempatan, dan rezeki.

Upacara Peringati Hari Raya Galungan dan Sembahyang, Denpasar
Foto: Masyarakat Hindu Bali Peringati Hari Galungan

“Untuk itu lakukanlah pekerjaan atau kegiatan sedini mungkin, agar tidak terlambat dan tidak ditinggalkan oleh waktu,” imbuh beliau. Itulah makna hari Kuningan yang harus dipahami semua umat Hindu di Bali dan Nusantara.

Baca Juga :  Kecelakaan di Ruas Jalan Utama Denpasar Gilimanuk

Sehingga sampai saat ini, masyarakat Hindu tetap memegang warisan pengetahuan tentang Kuningan ini. Dimana maknanya sangat dalam sekali. Beliau menambahkan, apabila ingin maju (Dharma menang melawan Adharma).

“Maka janganlah kita malas, jadilah kita orang yang selalu pertama atau selalu di depan, agar tidak ketinggalan (agar tidak Dharma dikalahkan oleh Adharma),” tegasnya.
(Beben)

error: