Penggguna WhatsApp Kini Bisa Kirim File Hingga 2GB

Penggguna WhatsApp Kini Bisa Kirim File Hingga 2GB

Jakarta – WhatsApp mengumumkan kemampuan untuk berkirim file melalui platformnya kini telah ditingkatkan. Lewat peningkatan ini, pengguna sekarang bisa berkirim file dengan ukuran lebih besar dari sebelumnya.

Dikutip dari blog WhatsApp, Jumat (6/5/2022), pengguna kini dapat mengirimkan file dengan ukuran hingga 2 GB dalam sekali waktu. Tidak hanya itu, perusahaan juga memastikan pengiriman ini tetap dilindungi oleh enkripsi end-to-end.

“Kini, kamu bisa mengirimkan file di WhatsApp hingga 2GB dalam sekali waktu, dan dilindungi dengan proteksi end-to-end,” tulis perusahaan melalui situsnya. Peningkatan kemampuan berkirim file ini terbilang signifkan.

Seperti diketahui, sejauh ini kemampuan berkirim file di aplikasi WhatsApp dibatasi hingga 100MB saja. Karenanya, kemampuan baru ini semakin jelas membantu para pengguna aplikasi chatting milik Meta ini.

Menurut WhatsApp, peningkatan kemampuan ini diharapkan dapat membantu kolaborasi antara pengguna, baik untuk keperluan bisnis maupun produktivitas. Untuk mengoptimalkan fitur ini, perusahaan menyarankan pengguna untuk memakai WiFi ketika berkirim file dengan ukuran besar.

“Kami merekomendasikan memakai WiFi untuk mengirimkan file berukuran besar dan kami akan menampilkan penghitung saat (pengguna) mengunggah atau mengunduh file untuk memberikan informasi bagi Anda berapa lama transfer akan berlangsung, perusahaan.

Selain bisa mengirim file berukuran besar, WhatsApp juga menambah kapasitas jumlah pengguna yang bisa masuk dalam obrolan grup. Kini, pengguna dimungkinkan untuk menambahkan hingga 512 orang ke dalam sebuah grup.

Kedua peningkatan tersebut rilis bersama dengan kehadiran fitur reaksi untuk para pengguna. Saat ini, WhatsApp menyedikan enam pilihan reaksi yang bisa digunakan pengguna, tapi ke baru akan terus ditambahkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan mengetik kata kunci yang diinginkan.

Di sisi lain, salah satu mantan petinggi WhatsApp, Chief Business Officer Neeraj Arora, mengatakan menyesal menjual WhatsApp ke Facebook. Saat itu, Oktober 2014, Facebook mengakuisisi WhatsApp dengan nilai USD 22 miliar.

Dalam cuitan bos WhatsApp Neeraj Arora menjelaskan, bagaimana WhatsApp menyimpang dari jalur yang diyakini para pendirinya, usai dibeli oleh Mark Zuckerberg.

MengutipThe Indian Express, Jumat (6/5/2022), Arora menyebut tim WhatsApp sebelumnya telah membuat tiga hal utama mengenai masa depan, ketika proses akuisisi.

“Pada tahun 2014, saya adalah Chief Business Officer WhatsApp, saya membantu negosiasi akuisisi WhatsApp ke Facebook dan kini saya menyesalinya,” kata Arora, membuka rangkaian cuitannya.

Ketiga yang diinginkan para pendiri awal WhatsApp adalah: tidak ada pengumpulan data pengguna, ada iklan, dan tidak ada lintas platform.

Arora juga berbicara mengenai model bisnis yang seharusnya diadopsi WhatsApp, yakni biaya berlangganan sebesar USD 1 per tahun untuk penggunaan layanan tanpa batas. Pihak Facebook menerima sebelum mengakuisisi.

Baca Juga :  Tips Agar Ponsel Anda Tidak Melambat Saat Bermain Game Sudahkah Anda Mencoba Mengaktifkan Mode Pengembang?

Menurut Arora, Facebook sebelumnya mendekati WhatsApp untuk mengakuisisi pada 2014.

Saat itu keduanya mengakui proses akuisisi kemitraan dengan dukungan penuh dukungan end-to-end, tidak ada iklan di platform, kebebasan penuh dalam membangun WhatsApp di WhatsApp, kursi perpustakaan untuk memiliki pend iri Whats App a Mountain View, California.

Arora mengklaim, setelah diakuisisi, WhatsApp masih berada di jalur yang benar hingga 2018, ketika dan Jan Koum memutuskan untuk meninggalkan WhatsApp.

Pendiri WhatsApp lainnya, Brian Acton lebih dahulu dari perusahaan yang didirikannya pada 2017, setelah berbeda pendapat dengan Mark Zuckerberg.

Di tahun yang sama, WhatsApp juga didera kasus pelanggaran data pribadi pengguna yang dikenal sebagai skandal Cambridge Analytica. Dalam cuitannya, Arora mengatakan, Brian Acton menilai “Delete Facebook”.

“Kini WhatsApp adalah platformkedua terbesar Facebook (bahkan lebih besar dari Instagram atau FB Messenger). Namun itu adalah bayangan dari produk yang kami curahkan hati dan ingin kami bukya untuk dunia. menyesal (WhatsApp) jadi bagian dari Facebook,” kata Brian Acton dalam satu cuitannya beberapa waktu lalu.

“Perusahaan teknologi seharusnya mengakui ketika mereka melakukan kesalahan. Awalnya tidak ada yang tahu bahwa Facebook akan menjadi monster yang melahap data pengguna dan mengeluarkan uang kotor. kataKami juga Arora di cuitan.

Arora pun mengaktifkan rangkaian cuitannya dengan link ke artikel milik Wall Street Journal mengenai HalloApp.

HalloApp adalah perusahaan yang ia dirikan, dan bagaimana perusahaan tersebut bisa didirikan oleh mantan eksekutif WhatsApp dan Facebook dan membidik perusahaan lama mereka.3 dari 4 halaman

Terlepas dari penyesalan mantan bos WhatsApp, sebelumnyaCEO Meta Mark Zuckerberg resmi mengumumkan kehadiran fitur reaksi di WhatsApp. Informasi tersebut ia umumkan melakui akun resminya di Facebook dan Instagram.

“Reactions di WhatsApp bergulir mulai hari ini,” tulis Mark seperti dikutip dari unggahan di Instagram Storiesnya, dikutipKamis (5/5/2022). Dalam unggahan tersebut, ia juga menampilkan enamreactionsyang hadir kali ini.

Adareactionsacungan jempol, hati, tertawa terbahak-bahak, kaget, serta sedih. Sebagai tambahan, ada pulareactionsyang diartikan sebagai ucapan terima kasih atau tos.

Dalam unggahan melalui Facebook, Mark Zuckerberg juga menuliskan dalam waktu dekat lebih banyak ekspresi akan ditambahkan di fitur ini. Namun, ada kemungkinan fitur ini akan dirilis secara bertahap untuk seluh pengguna, sehingga saat ini tidak ada semunya yang bisa memakainya.

Untuk diketahui, fitur-fitur reaksi di WhatsApp sepertinya sudah terlihat sejak tahun lalu, tapi baru muncul di versi beta baru pada bulan lalu. Sesuai namanya, fitur ini memungkinkan pengguna untuk memberikan reaksi pada pesan yang diterima.

(^^)

error: