China versus Amerika Serikat : Rivalitas Keamanan Pertahanan Negara Adidaya Di Kawasan Asia Pasifik

China versus Amerika Serikat : Rivalitas Keamanan Pertahanan Negara Adidaya Di Kawasan Asia Pasifik

Kawasan Asia Pasifik merupakan pusat gravitasi keamanan global,  kawasan ini merupakan kawasan paling strategis di dunia. Keamanan Internasional secara umum sangat ditentukan oleh bagaimana dinamika  dan interaksi keamanan di kawasan ini. Kawasan Asia Pasifik juga merupakan kawasan yang paling dinamis pertumbuhan ekonominya. Posisi strategis tersebut menjadikan Asia Pasifik menjadi pusat aktivitas yang penting dalam percaturan politik global. Posisi strategis tersebut tentu akan mengakibatkan konstelasi konflik serta kerja sama yang tidak hanya melibatkan negara di kawasan tetapi juga melibatkan superpower state di luar kawasan. Peran aktif Amerika Serikat (AS) di kawasan ini telah menimbulkan berbagai spekulasi akan stabilitas keamanan.

Pasca Perang Dingin, kebijakan keamanan AS banyak berfokus di kawasan Timur Tengah, sehingga AS seakan ‘terlupakan’ dengan kawasan Asia Pasifik. Kemunculan Cina dengan kekuatan ekonomi dan militernya dalam beberapa dekade terakhir kembali menyadarkan AS tentang arti geopolitik dan geostrategi di Asia Pasifik. Rivalitas keamanan antara AS dan Cina akan menjadi isu regional terpenting dalam beberapa tahun. Hubungan antara AS dengan Cina merupakan hubungan paling penting dalam politik dunia.

Teori transisi kekuasaan menunjukkan bahwa kekuatan yang meningkat dan rivalitas hegemoni cenderung sulit diselesaikan dengan jalan damai dan kondisi tersebut akan menciptakan sebuah tragedi politik (perang atau konflik). AS mengalami penurunan kekuatan (declining) atas meningkatnya pengaruh Cina dalam persaingan keamanan. Tragedi atas transisi kekuasaan tersebut tidak dapat dihindari jika AS dan Cina tidak dapat mengatur hubungan bilateral yang rumit. Peningkatan pengaruh Cina semakin tak terelakkan, sehingga Cina telah menjadi pusat gravitasi baru di kawasan dan kondisi ini harus diterima oleh AS.

Kekuatan ekonomi Cina menjadikan upaya strategi rebalancing AS semakin sulit. Pertumbuhan ekonomi yang kuat dan ekspansi pasar domestik Cina yang semakin meluas, menjadikan Cina sebagai produser barang terbesar di Asia. Cina juga telah memperkuat daya saing ekspornya sehingga menyebabkan perubahan dalam transaksi ekonomi negara-negara tetangga di Asia (Goh and Simon 2007).

Selanjutnya, terlihat dari kompleksnya permasalahan Cina dengan Taiwan, nuklir Korea Utara, serta permasalahan teritorial maritim Laut Cina Selatan yang mana aspek-aspek tersebut berimplikasi pada kehadiran militer AS di kawasan Asia Pasifik. AS perlu membuat pilihan dilematis antara kepentingan domestiknya dan keunggulan militer di kawasan. Preferensi dan kepentingan Cina pada dasarnya memang akan konfrontatif dengan kepentingan AS karena kepentingan nasional yang utama bagi Cina adalah klaim teritorial Laut Cina Selatan dan Timur yang bertentangan dengan batas-batas maritim negara aliansi AS. Perbedaan kepentingan dan orientasi politik antara AS dan Cina memungkinkan terjadinya konflik antarkedua negara. (Bendini, 2016)

Baca Juga :  Mlipir Bregas, Sapa Warga dan Pantau Lingkungan, Hanmars Prajurit Wijayakusuma

Ditinjau berdasarkan faktanya, beberapa faktor yang tidak pasti akan mempengaruhi keseimbangan kekuasaan masa depan di kawasan Asia-Pasifik. Pertumbuhan ekonomi Cina yang cepat, telah menjadi dorongan untuk pergeseran kekuasaan regional. Posisi AS di Asia juga masih belum pasti, tergantung pada pemulihan ekonomi yang berkelanjutan, dan komitmen yang kuat untuk rebalancing AS terhadap Asia. Jika faktor-faktor ini terus menguat, maka kemungkinan sistem kepemimpinan ganda masih terus berlanjut.

Apapun masalahnya, sifat hubungan AS dan Cina yang tidak menentu akan memiliki dampak yang sangat besar pada kawasan untuk tahun yang akan datang.. AS dan Cina harus saling mencari cara agar terciptanya hubungan strategis antar kedua negara dan tidak menimbulkan efek negatif terhadap stabilitas keamanan kawasan. Disimpulkan bahwa hampir dapat dipastikan kita akan menyaksikan lebih banyak peningkatan kekuatan Cina di tatanan regional masa depan, yang kini telah ditunjukkan oleh inisiatif dari One Belt One Road.

Pemahaman yang lebih baik tentang kebangkitan Cina serta niat strategisnya membutuhkan pengamatan lebih mendalam. Tantangan selanjutnya adalah AS perlu mencari keseimbangan antara ‘menerima’ peran global yang lebih besar bagi Cina sambil terus membangun cara untuk ‘melawan’ pemaksaan kepentingan dari Cina, dengan harapan akan mampu menurunkan esklasi persaingan dan saling mengamankan berbagai kepentingan antara AS dan Cina.  (TIM)

Penulis : SONY, AKBAR, FIRMAN, ANDRE, RAMADHAN

Sumber :

Bendini, Roberto. 2016. United States – China Relations: A Complex Balance Between Cooperation and Confrontation. Directorate General for External Policies Policy Department, European Union.

Goh, Evelyn., &  Simon, S, W.. 2007. China the United States and South-East Asia: Contending Perspectives on Politics, Security, and Economics China the United States and South-East Asia: Contending Perspectives on Politics, Security, and Economics.

 

error: